Thursday, November 1, 2012

Sensasi Petualangan ke Air Terjun Dwiwarna Sibolangit


Sensasi Petualangan ke Air Terjun Dwiwarna Sibolangit

Air Terjun Dwiwarna Sibolangit - Pada artikel kali ini saya akan berbagi informasi mengenai tempat wisata air terjun yang cukup eksotis di daerah Sumatera Utara (Sumut). Air terjun ini bernama Air terrjun Dwi Warna, berada di bumi perkemahan sibolangit sekitar 1-2 jam waktu tempuh dari Medan ibukota provisnsi Sumut menggunakan kendaraan pribadi. Tapi sabar dulu, anda masih harus menempuh lagi dengan berjalan kaki sekitar 1, 5 jam dari bumi perkemahan tersebut. Dalam perjalanan anda akan ditemani pemandangan yang masih sangat ‘perawan’. Menyebrangi sungai yang jernih, udara segar, kicauan burung, bunyi gemercik air, itulah “pacar” yang akan selalu menemani anda selama perjalanan yang meletihkan.
Pada beberapa spot terdapat daerah yang curam. Untuk turun dapat menggunakan tali yang sudah disediakan disitu. Perjalanan tidak akan begitu sulit karena mungkin sudah sering dilalui oleh manusia sehingga jalan menuju air terjun tidak begitu menjadi hambatan. Hanya saja karena perjalanan terus mendaki maka energi anda akan cepat terkuras. Kenikmatan terasa di dalam hutan sambil memperhatikan berbagai spesies yang ada di dalam hutan menuju dwi warna tersebut.
 Aliran sungai dari air terjun dwi warna akan kita lewati sebelum sampai ke tujuan. Dari sungai tersebut banyak terdapat batu-batu besar yang membantu anda untuk melewati sungai. Dinginnya air sungai tersebut dapat sejenak mengisyaratkan kita beristirahat sambil menikmati keindahan sungai dan mengambil moment-moment berupa foto.
Dan ketika anda sampai ke lokasi Air Terjun, dijamin segala kepenatan n keletihan anda akan terbayar sudah.  Dua air tejun eksotis yang memiliki danau di masing-masing air terjun dengan dikelilingi bukit-bukit kecil  berwarna hijau akan segera melepas semua beban perjalanan anda. Dengan perjalanan menuju air terjun ini yang agak sedikit menantang namun tetap indah maka bagi anda yang mempunya hobby fotografi dan petualangan maka tempat air terjun dwi warna  adalah salah satu dari sekian banyak tempat wisata Eksotis di Indonesia yang patut anda coba.



Sensasi Petualangan ke Air Terjun Dwiwarna Sibolangit

Sensasi Petualangan ke Air Terjun Dwiwarna Sibolangit

Sensasi Petualangan ke Air Terjun Dwiwarna Sibolangit

Sensasi Petualangan ke Air Terjun Dwiwarna Sibolangit


Sunday, October 28, 2012

Eksotisme Air terjun Sipiso-piso - Sumatera Utara


Eksotisme Air terjun Sipiso-piso - Objek wisata Air terjun Sipiso-piso yang terletak di Desa Tongging, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, atau sebelah utara Danau Toba, sekitar 24 kilometer dari Kabanjahe, biasanya ramai dikunjungi wisatawan lokal yang mengisi liburan akhir pekan. Dapat dibilang, mengunjungi desa ini tidak berbeda dengan berwisata ke Air Terjun Sipiso-piso. Secara geografis, Desa Tongging berada di dataran lebih rendah, sementara Air Terjun Sipiso-piso terletak di perbukitan yang lebih tinggi dari Desa Tongging. Air terjun ini berada di ketinggian lebih kurang 800 meter dari permukaan laut (dpl) dan dikelilingi oleh bukit yang hijau karena ditumbuhi hutan pinus.

Dengan mengunjungi Desa Tongging, Anda akan menikmati pemandangan yang indah seperti kawasan wisata di Desa Tao Silalahi yang berada di dekatnya. Sebelum menikmati air terjun dari dekat, Anda akan disuguhi pemandangan indah Tanah Karo dari gardu pandang yang ada di puncak bukit, titik pangkal aliran air terjun Sipiso-piso. Dari puncak bukit yang mengitari Air Terjun Sipiso-piso ini pula Anda dapat menyaksikan keindahan lansekap Danau Toba, sebuah danau vulkanik terbesar di dunia.

Nama Air terjun sipiso-piso ini sendiri berasal dari kata Piso yang berarti pusau, tentunya anda sudah bisa membayangkan bentuk air terjun ini yang meluncur tajam bagaikan pisau dari atas tebing. Air terjun itu deras mengalir ke bawah mengiris bukit-bukit hijau yang ditumbuhi pohon pinus. Anda tidak hanya dapat melihat air terjun dari kejauhan, namun bisa juga turun lebih dekat ke bawah. Untuk mencapai dasar air terjun, para turis memang harus mengeluarkan sedikit tenaga ekstra. Tangga menuju bawah cukup jauh dan terjal sehingga pastikan bahwa anda memiliki stamina yang cukup serta membawa perbekalan seperti air mineral. Turunnya mungkin tidak terlalu menjadi masalah, namun untuk naik kembali ratusan anak tangga setelah selesai bersenang-senang di bawah tentu akan menguras energi.

Air Terjun Sipiso-piso punya pemandangan alam yang indah nan mempesona. Di antara tebing yang tampak kehijauan, turunlah kucuran air yang tak begitu besar. Dari sebuah pos pemantauan yang ada di Merek, anda bisa menikmati keindahan Sipiso-piso dan Danau Toba dari kejauhan.

Penginapan tentu menjadi hal yang penting bagi anda yang ingin berkunjung. Ketika berwisata di Air Terjun Sipiso-piso dan berkeinginan untuk bermalam, maka Anda dapat menemukan penginapan di Desa Tongging atau di Kota Kabanjahe, ibukota Kabupaten Karo. Selain itu, bila Anda ingin mencari kenang-kenangan atau suvenir untuk keluarga di rumah, maka datangi saja berbagai penjaja suvenir khas Tanah Karo disekitar kawasan wisata ini.

Wisata Indonesia, termasuk juga wisata Air Terjun Sipiso-piso di Sumatera Utara ini memang sangat eksotis. Kita sebagai orang Indonesia harus bangga dan mencintainya. Selamat berwisata, selamat menikmati titik eksotis di Indonesia.

Air terjun Sipiso-piso - Sumatera Utara

Air terjun Sipiso-piso - Sumatera Utara

Air terjun Sipiso-piso - Sumatera Utara

Air terjun Sipiso-piso - Sumatera Utara

Air terjun Sipiso-piso - Sumatera Utara

Air terjun Sipiso-piso - Sumatera Utara

Friday, October 26, 2012

Pulau Sabu dan Raijua “Surga Kecil yang Tersesat di Tengah Samudra”

Rasanya hanya sebagian kecil dari pembaca yang mengenal kedua pulau ini, oleh karena itu tak ada salahnya jika saya memperkenalkannya kepada anda yang belum tahu. Pulau Sabu dan Pulau Raijua adalah dua pulau kecil yang merupakan wilayah dari pemerintahan Kabupaten Sabu Raijua, Propinsi Nusa Tenggara Timur. Kabupaten ini dimekarkan dari Kabupaten Kupang pada Tahun 2009 lalu. Terdiri dari 6 kecamatan yaitu Kecamatan Sabu Barat, Sabu Tengah, Sabu Timur, Hawu LiaE, Hawu Mehara, dan Kecamatan Raijua.
Kabupaten Sabu Raijua (Sarai) memiliki jumlah penduduk sekitar kurang lebih 75.000 orang dengan luas wilayah sekitar 467 Km2 Pulau Sabu dan Raijua memiliki satu Bahasa daerah (Bahasa Sabu) dan memiliki 5 dialek berbeda. Untuk komunikasi sehari-hari, orang di pulau ini biasanya menggunakan bahasa Melayu Kupang dan daerah Sabu dengan dialeknya masing-masing.
Letak Pulau Sabu dan Raijua yang jauh dari Kota dan Pulau-pulau besar di NTT, seakan membuat keduanya tersesat dalam kesendirian di tengah samudra. Meskipun di kedua pulau ini sudah ada 3 dermaga dan 1 lapangan udara kecil untuk pesawat merpati kecil, tapi tetap saja keduanya terisolir pada bulan-bulan tertentu, yaitu sekitar bulan November-Januari. Pada bulan-bulan itu biasanya cuaca tidak bersahabat dan gelombang laut bisa mencapai 3-4 meter sehingga membuat Kapal Fery yang merupakan alat transportasi utama warga pulau ini tidak beroperasi seperti biasa. Alternatifnya yaitu dengan menggunakan pesawat, tapi karena pesawat yang beroperasi ke pulau Sabu hanya pesawat kecil berkapasitas sekitar 20 orang. Maka otomatis orang-orang yang ingin masuk ataupun keluar dari kedua pulau ini menjadi tersendat. Sungguh ironis memang.

Waktu yang ideal untuk mengunjungi Pulau Sabu dan Pulau Raijua adalah pada bulan February-Oktober. Untuk ke Pulau Sabu yang merupakan pulau terbesar di kabupaten ini, bisa ditempuh Dengan menggunakan kapal Fery anda akan menempuh perjalanan sekitar 13 jam dari dermaga Bolog di Kota Kupang, atau sekitar 12 jam dari Kota Waingapu (Kabupaten Sumba Barat) dan sekitar 13 jam dari Kota Ende (Kabupaten Ende). Sedangkan dengan menggunakan pesawat, memakan waktu perjalanan sekitar 30 menit yang hanya bisa ditempuh dari Bandara El-Tari Kota Kupang menuju Lapangan Udara Terdamu di Kecamatan Sabu Barat. Untuk ke Pulau Raijua sendiri hanya bisa ditempuh dari dermaga seba di pulau sabu menggunakan kapal kayu dan memakan waktu sekitar 1,5-2 jam.

Terlepas dari segala kesusahannya, Pulau Sabu dan Raijua ternyata masih menyimpan pesona keindahan yang tidak mudah anda temukan di tempat lain. Meskipun kondisi tanah di kedua pulau ini tergolong tandus, tapi Air lautnya yang jernih dan pasir putih yang mengintari hampir seluruh bibir pantai kedua pulau ini seolah menjadi pesona tersendiri dari keduanya. Anda tidak usah pergi mencari-cari tempat lagi untuk menikmati keindahan pantai di kedua pulau ini, karena anda hanya cukup pergi ke pantai mana saja maka disitu anda akan disajikan dengan keindahan pantai pasir putih yang benar-benar masih “Perawan”. Satu lagi, semuanya masih gratisss…
Bisa dibilang pantai di Pulau Sabu dan Pulau Raijua tak kalah indah dibandingkan dengan Pantai Kuta dan Pantai Senggigi yang sangat tersohor itu, hanya saja keduanya kalah telak dalam hal fasilitas. Semoga saja dengan dimekarkannya Sabu dan Raijua menjadi daerah otonom sendiri, fasilitas penunjang pariwisata kedua pulau ini menjadi lebih diperhatikan.

Selain menikmati pesona keindahan pantainya, anda juga bisa menikmati wisata budaya seperti tarian daerah, jalan-jalan melihat situs adat, kegiatan upacara adat serta membeli berbagai souvenir tradisional khas Pulau Sabu dan Raijua untuk dijadikan kenang-kenangan. Bagi anda yang suka berpetualang melihat pesona keindahan alam dan budaya Indonesia yang masih “Perawan” dan tersembunyi, maka berlibur ke Pulau Sabu dan Pulau Raijua adalah sebuah pilihan yang tepat.



Wednesday, October 10, 2012

Batu-batu terunik di Indonesia

Di Indonesia bisa ditemukan banyak batu. Batu-batu tersebut bisa menciptakan pemandangan yang indah sehingga bisa menjadi tujuan para wisatawan. Di antaranya ada batu-batu berbentuk unik yang terbentuk secara alami yang bisa ditemukan di Indonesia.

Berikut batu-batu unik tersebut:

Batu bukit Kelam


Bukit Kelam sebenarnya merupakan sebongkah batu raksasa yang monolit, sehingga sering diklaim sebagai batu terbesar di dunia. Batu ini terletak 20 Km dari kota Sintang, Kalimantan Barat.

Batu Belimbing 


Batu ini unik karena bentuknya menyerupai buah belimbing. Batu ini terletak di Kecamatan Pajintan, Singkawang Timur, Kalimantan Barat.
.
Batu kemaluan Pantai Kundur 


Batu ini disebut batu kemaluan sebab bentuknya yang menyerupai alat kelamin laki-laki. Batu ini terletak di Pantai Kundur Desa Kundur, Kecamatan Kundur Barat, Kepulauan Riau.

Batu Apung Marowali


Batu ini terlihat seperti melayang di atas air. Batu ini terletak di Kabupaten Marowali Provinsi Sulawesi Tengah.

Batu Malin Kundang


Batu ini unik karena menyerupai sosok manusia dengan sisa-sisa kapal karam. Batu ini disebut-sebut legenda merupakan wujud anak durhaka yang dikutuk jadi batu. Batu ini terletak di Pantai Air Manis, Padang, Sumatera Barat.

Batu-batu tersebut di atas memang fenomena alam yang unik. Sebenarnya masih banyak keunikan yang bisa kita temukan di alam Indonesia ini.

Thursday, September 27, 2012

Sungai-sungai Unik yang ada di Indonesia

Indonesia memiliki sungai-sungai unik yang bisa dijadikan sebagai tempat wisata yang menakjubkan. Berikut sungai-sungai unik yang ada di Indonesia:

Sungai Biskori


Sungai Biskori terdapat di kawasan Hutan Suaka Alam Tanjung Peropa, Kabupaten Konawe Timur, Kendari, Sulawesi Tenggara. Keunikan sungai ini karena terdapat air terjun dengan tujuh tingkat yang membuat pemandangan yang luar biasa indahnya. Air terjun dengan tujuh tingkat ini dikenal dengan nama air terjun Moramo. Air terjun ini berbeda dengan air terjun pada umumnya. Air terjun Moramo memiliki bentuk yang bertingkat hingga 100 meter ketinggiannya. Dari tujuh tingkat itu, di antaranya terdapat lagi puluhan tingkat-tingkat kecil setinggi setengah hingga satu meteran yang semakin memperindah keelokan tempat ini.

Sungai Tamborasi


Sungai Tamborasi berada di Kecamatan Tamborasi, Kolaka, Sulawesi Tenggara. Sungai ini sangat unik karena hanya memiliki panjang sekitar 20 meter saja. Ini menjadikan sungai ini menjadi sungai terpendek di dunia. Sungai Tamborasi memiliki hulu dan hilir dalam satu tempat yang berdekatan. Letak hulu sungai yang berasal dari mata air yang keluar dari bukit batu kapur hanya berjarak sekitar 20 meter dari hilir yang bermuara langsung ke laut.

Sungai Cisolok


Sungai Cisolok berada di lokasi wisata air panas Cisolok, Sukabumi, Jawa Barat. Sungai ini unik karena di tengah-tengah sungai, air panas menyembur deras dengan suhu 80 derajat celcius. Semburan air panas muncul dari dalam tanah. Air panas tersebut memancar keluar dengan tekanan yang cukup tinggi dan berada di tengah-tengah sungai. Sungai ini memiliki tiga titik semburan. Semua semburan berasal dari geyser, air panas yang melewati lapisan kerak bumi.

Sungai Kampar


Sungai Kampar terdapat di Desa Teluk Meranti. Desa ini berada di timur laut dari Pekanbaru, Riau. Sungai ini unik karena bisa dijadikan sebagai tempat selancar. Biasanya olahraga surfing atau selancar dilakukan di laut tapi para surfer juga bisa melakukannya di sungai Kampar. Pada waktu-waktu tertentu, timbul ombak besar di Sungai Kampar. Tinggi ombak bisa mencapai enam sampai tujuh meter. Penduduk lokal menyebut ombak besar di Sungai Kampar sebagai Bono.

Sungai Bawah Tanah Gua Pindul


Sungai ini terdapat di dalam gua pindul. Gua Pindul adalah salah satu gua dari serangkaian 7 gua dengan aliran sungai bawah tanah. Gua Pindul terletak di Dus. Gelaran, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunung Kidul. Keunikan sungai ini karena sungai ini berada di bawah tanah dan melalui gua yang gelap. Sungai bawah tanah ini memiliki panjang sekitar 300 m dan lebar 5 m.

Saturday, September 22, 2012

Danau unik dan langka yang ada di Indonesia

Indonesia memiliki banyak danau yang indah. Beberapa di antaranya sangat unik dan sulit ditemukan danau yang seperti itu di tempat lain di dunia. Berikut beberapa danau unik dan langka yang ada di Indonesia:

Danau Kakaban

Danau Kakaban terletak di tengah Pulau Kakaban, Berau, Kalimantan Timur. Danau ini merupakan danau prasejarah dengan air laut yang terperangkap di dalamnya sejak 2 juta tahun silam. Danau Kakaban sangat unik karena merupakan danau air payau dengan biota yang mengalami evolusi selama puluhan ribu tahun sehingga memiliki sifat dan tampilan fisik yang berbeda dengan spesies sejenisnya di laut. Di dalam Danau Kakaban tersebut terdapat ratusan ubur-ubur yang tidak menyengat. Selain itu terdapat berbagai jenis hewan yang hanya terdapat di danau itu.

Danau Labuan Cermin

Danau Labuan Cermin, terletak di Desa Biduk-Biduk, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Danau ini sangat unik karena merupakan campuran antara danau air tawar dan air asin. Danau ini di permukannya merupakan air tawar sementara di dasarnya terdapat aliran air asin. Anehnya, kedua jenis air ini tidak tercampur. Adanya dua jenis air di danau ini membuat kita bisa menemukan Ikan air tawar yang hidup di permukaan sedangkan di bagian bawahnya ada ikan-ikan yang sering di jumpai di laut. Danau ini diberi nama Labuan Cermin karena airnya jernih sekali sehingga kita bisa bercermin di atasnya.

Danau Kelimutu

Danau Kelimutu teletak di puncak Taman Nasional Kelimutu,Pulau Flores, Provinsi NTT. Danau Kelimutu ini terdiri dari 3 danau yang masing-masing punya warna yang berbeda-beda. Danau Kelimutu merupakan satu-satunya danau di dunia yang airnya dapat berubah sendiri warnanya setiap saat. Terkadang air danau Kelimutu berubah jadi cokelat, kehitaman, hingga kekuningan.

Danau Merah Pagaralam

Danau merah terletak di sekitar perbukitan Raje Mandare perbatasan antara Kota Pagaralam dan Kaur, Provinsi Bengkulu. Keunikan danau ini karena permukaan air berwarna merah seperti darah. Anehnya, meskipun dilihat dari permukaan berwarna merah, tapi ketika air diambil menggunakan tangan dan diangkat ke permukaan, justru warnanya bening seperti biasa.

Danau Satonda


Danau Satonda terletak di tengah pulau Satonda, Dompu, NTB. Danau ini mempunyai keunikan karena kadar garam air danau ini lebih tinggi daripada kadar garam air laut. Danau ini juga unik karena memiliki lingkungan yang menyerupai lautan purba ditandai dengan adanya stromatolit di Satonda. Stromalit merupakan bakteri yang hidup dalam lingkungan ekstrem yang muncul pada Zaman Kambrium. Danau satonda menjadi satu-satunya tempat di bumi ini yang sempurna bagi stromatolit ini untuk berkembang pada masa ini. (Indonesiatop.blogspot.com).

Tuesday, August 28, 2012

Pohon-pohon asli Indonesia yang bernilai tinggi sejak zaman kuno

Sejak dahulu Indonesia memang dikenal sebagai pulau penghasil tanaman bernilai tinggi. Orang Arab mencatat bahwa Sriwijaya memiliki aneka komoditas seperti kapur barus, kayu gaharu, cengkeh, pala,  kepulaga, dan lain-lain yang membuat raja Sriwijaya sekaya raja-raja di India. Pohon-pohon ini telah mengundang bangsa asing untuk datang ke negeri kita.

Bangsa Eropa mencoba mencari daerah yang sangat kaya dengan sumber daya alamnya yang tidak terdapat di belahan dunia manapun. Sebenarnya yang dicari oleh Christopher Colombus itu adalah Hindia atau Indonesia, dan bukan Amerika. Oleh karenanya, ketika Columbus bertemu penduduk asli setempat, ia langsung menyebutnya sebagai Indian. Yang dimaksud Columbus dengan India pada waktu itu bukanlah negeri India yang kita kenal sekarang, tapi adalah wilayahnya di selatan termasuk bagian daripada yang merupakan wilayah Indonesia sekarang. Indonesia waktu itu disebut Eropa dengan Hindia timur karenanya juga Belanda menamakan jajahannya di Nusantara dengan nama Hindia Belanda. Indonesia memang memiliki pohon-pohon bernilai tinggi sehingga banyak yang mencari asal darimana pohon-pohon tersebut berasal.

Berikut pohon-pohon asal Indonesia yang bernilai tinggi sejak zaman dulu:

Cengkeh


Cengkeh adalah rempah-rempah purbakala yang telah dikenal dan digunakan ribuan tahun sebelum masehi. Semerbak harum cengkeh, telah membius banyak negara untuk menemukan sumbernya. Ketika itu di dunia, cengkeh hanya diketahui dapat tumbuh di pulau-pulau kecil di Maluku. Ternate adalah tanah asal cengkeh selain Tidore, Makian, Bacan, dan Moti. Dari kelima pulau ini pohon cengkeh menyebar. Gara-gara harumnya kuncup bunga ini, berbagai bangsa datang mencarinya sampai ke bumi Maluku Utara.

Cengkeh (Syzygium aromaticum, syn/Eugenia aromaticum) adalah tangkai bunga kering beraroma yang berasal dari keluarga pohon Myrtaceae. Dalam bahasa Inggris, cengkeh biasa disebut dengan cloves. Bunga cengkeh merupakan tunas bunga yang berbentuk lonjong dengan panjang rata-rata 1,5-2 cm saat dipanen.

Cengkeh sejak dulu sudah menjadi bahan dagangan yang dicari oleh para pedagang India. Dalam kitab Raghuvamsa karangan Kalidasa yang menurut para ahli hidup sekitar tahun 400 M disebut Lavanga (cengkeh) yang berasal dari dvipantara. Wolter percaya bahwa yang dimaksud dengan dvipantara adalah Kep. Indonesia.

Dari Cina tercatat Dinasti Han, memanfaatkan keharuman cengkeh sebagai penyegar nafas. Pada abad ke-4, pemimpin Dinasti Han dari Tiongkok memerintahkan setiap orang yang mendekatinya untuk mengunyah cengkeh agar nafasnya harum. Semua yang hendak bertemu dan berinteraksi dengan Kaisar Cina diharuskan mengulum atau mengunyah cengkeh untuk menghindarkan kaisar dari bau nafas tak segar.

Selain oleh bangsa Cina, cengkih telah lama digandrungi orang-orang Mesopotamia. Dari penemuan arkeologi peradaban Sumeria (peradaban purba di selatan Mesopotamia, tenggara Irak) diketahui cengkeh sangat populer di Syria pada 2400 SM. Ini bukti yang sangat kuat bahwa perdagangan rempah-rempah dari kepulauan Maluku sudah ada sejak zaman purba. Catatan mengenai popularitas cengkeh dari Maluku dikemukakan arkeolog Giorgio Buccellati. Dari rumah seorang pedagang di Terqa, Efrat Tengah pada 1700 SM, ia menemukan wadah berisi cengkeh.

Pada masa lalu, harga cengkeh cukup mahal. Cengkeh sangatlah mahal pada zaman Romawi. Cengkeh jadi bahan tukar menukar oleh bangsa Arab di abad pertengahan. Pada abad pertengahan (sekitar 1600 Masehi) cengkeh pernah menjadi salah satu rempah yang paling populer dan mahal di Eropa, melebihi harga emas. Pada akhir abad ke 15, orang Portugis membawa banyak cengkeh yang mereka peroleh dari kepulauan Maluku ke Eropa. Pada saat itu, harga 1 kg cengkeh sama dengan harga 7 gram emas. Perdagangan cengkeh akhirnya didominasi oleh orang Belanda pada abad ke 17. Dengan susah payah, orang Perancis berhasil membudidayakan pohon Cengkeh di Mauritius pada tahun 1770. Cengkeh lalu dibudidayakan di Guyana, Brasilia dan Zanzibar. Pada abad ke 17 dan ke 18 di Inggris, harga cengkeh sama dengan harga emas karena tingginya biaya impor.

Cengkeh banyak digunakan sebagai bumbu, baik dalam bentuknya yang utuh atau sebagai bubuk. Minyak esensial dari cengkeh juga mempunyai fungsi anestetik dan antimikrobial. Minyak cengkeh sering digunakan untuk menghilangkan bau nafas dan untuk menghilangkan sakit gigi. Rempah-rempah ini telah menjadi barang berharga yang dapat digunakan untuk aneka keperluan mulai dari perasa makanan, minuman, obat-obatan, dan rokok.

Pala


The island can be smelled before it can be seen, demikian ungkap Giles Milton mengawali bukunya Nathaniels Nutmeg. Ungkapan itu kurang-lebih bermakna; kepulauan Banda dapat tercium wanginya sebelum pulaunya terlihat. Maka terbayangkan betapa luar biasa Banda dengan Pala-nya saat itu. Dalam perdagangan internasional, pala Indonesia dikenal dengan nama ”Banda nutmeg”.  Pala merupakan tanaman buah asli Indonesia, khususnya Banda dan pulau-pulau Maluku lainnya. Tanaman ini kemudian tersebar di Pulau Jawa. Sejak itu, pembudidayaan pala terus meluas sampai Sumatera. Pala kini tidak lagi "monopoli" orang Banda Naira. Sekarang sudah ada pala Grenada, yang menjadikan pala sebagai salah satu ekspor andalan mereka.

Pala, yang dalam bahasa latin disebut Myristica Fragrant Houtt atau di Cina dikenal Loahau, sementara di India disebut Jadikeir. Buahnya bulat sampai lonjong, berwarna hijau kekuning-kuningan. Daging buahnya/ pericarp tebal dan rasanya asam.

Dalam sejarah, Eropa baru mengenal pala pada abad ke-11 melalui para saudagar Arab, meskipun ada dugaan, pala telah dikenal masyarakat Mesir kuno yang digunakan untuk mengawetkan mummi.

Menurut catatan Fransisco de Alburquerque, seorang saudagar Portugis, Cina sejak kurang lebih 600 tahun telah berdagang dan menetap di Banda Naira jauh sebelum mereka, dan bangsa Arab. Bukti lain yang mendukung, adanya peta jalur perdagangan kuno yang membentang dari daratan Cina hingga ke Banda Naira, yang dikenal dengan silk route atau "jalur sutra".

Bangsa-bangsa dari benua Eropa pada abad pertengahan datang ke Indonesia untuk mendapatkan Pala. Harga biji dan bunga pala saat itu lebih mahal dari harga emas. Pentingnya Pala membuat Belanda sampai menukar Pulau Run di kepulauan Banda, Maluku dengan Pulau Manhattan (New Amsterdam) di Amerika Serikat. Peristiwa tersebut terjadi pada tahun 1667 dalam perjanjian Treaty of Breda. Inggris dan Belanda menandatangani Perjanjian Breda (Treaty of Breda). Belanda memilih menyerahkan Manhattan kepada Inggris dan menukarnya dengan pulau Run. Bagi Belanda ketika itu, Pulau Run lebih penting dibandingkan dengan Manhattan hanya untuk buah pala.

Buah ini digunakan pada masakan daging di negara-negara seperti; Arab, Iran, dan utara India. Di India, masakan seperti masala adalah mengandung pala, demikian pula ras el hanout dari Moroko, dan galat dagga dari Tunisia, serta baharat dari Arab Saudi.

Selain sebagai rempah-rempah, pala juga berfungsi sebagai tanaman penghasil minyak atsiri yang banyak digunakan dalam industri pengalengan, minuman dan kosmetik. Dalam hal ini, kulit batang dan daun pala, serta Fuli. Fuli adalah benda untuk menyelimuti biji buah pala yang berbentuk seperti anyaman pala, atau disebut "bunga pala".

Adapun biji pala jarang dimanfaatkan oleh orang-orang pribumi sebagai rempah-rempah. Padahal biji pala sesungguhnya dapat meringankan semua rasa sakit dan rasa nyeri yang disebabkan oleh kedinginan dan masuk angin dalam lambung dan usus. Juga sangat baik untuk obat pencernaan yang terganggu, obat muntah-muntah dan lain-lain.


Gaharu

“Sudah gaharu cendana pula”, itulah ungkapan sejak ratusan tahun yang lalu. Dari ungkapan tersebut dapat diketahui bahwa garahu dan cendana sudah dikenal sejak lama dan memiliki nilai tinggi. Kedua jenis kayu tersebut melambangkan kemakmuran.

Gaharu (Aquilaria spp.) merupakan komoditas langka dan spesies asli Indonesia. Gaharu berarti harum yang berasal dari bahasa Melayu, atau dari Bahasa Sansekerta ‘aguru’, berarti ‘kayu berat (tenggelam)’. Gaharu adalah bahan parfum yang diperoleh dari hasil ekstraksi resin dan kayunya. Dilihat dari wujud dan manfaatnya, gaharu memang sangat unik. Gaharu sebenarnya sebuah produk yang berbentuk gumpalan padat berwarna coklat kehitaman sampai hitam dan berbau harum yang terdapat pada bagian kayu atau akar tanaman pohon induk  (misalnya: Aquilaria M.) yang telah mengalami proses perubahan fisika dan kimia akibat terinfeksi oleh sejenis jamur. Oleh sebab itu tidak semua pohon penghasil gaharu mengandung gaharu. Gaharu sebenarnya adalah hasil persenyawaan enzim jamur tertentu yang menginfeksi kayu/pohon gaharu . Persenyawaan itu menghasilkan damar wangi yang kemudian dikenal sebagai gaharu.

Gaharu sudah dikenal sebagai komoditas penting, semenjak jaman Mesir Kuno. Mumi mesir, selain diberi rempah-rempah (kayumanis, cengkeh), juga diberi cendana dan gaharu. Di pasar internasional, gaharu diperdagangkan dalam bentuk kayu, serbuk, dan minyak.

Gaharu sudah dikenal sebagai komoditas termahal dan konsumsi raja-raja semenjak kerajaan kuno Mesir, Babilonia, Mesopotamia, Romawi, dan Yunani. Mumi-mumi di Mesir, selain diolesi kayu manis dan cengkeh, juga diberi minyak mur, minyak cendana, dan minyak gaharu.

Sejarah telah membuktikan bahwa keharuman gaharu telah dikenal sejak ratusan tahun yang lalu. Sejak zaman dahulu, gaharu menjadi komoditas perdagangan dari kepulauan nusantara antara lain ke India, Persia, Jazirah Arab, dan Afrika Timur.

Gaharu sejak zaman dahulu kala sudah digunakan, baik oleh kalangan bangsawan (kerajaan) hingga masyarakat suku pedalaman di pulau Sumatera dan pulau Kalimantan. Gaharu adalah bahan aromatik termahal di dunia. Gaharu adalah bahan parfum, kosmetik dan obat-obatan (farmasi).

Indonesia merupakan negara produsen gaharu terbesar di dunia dengan kualitas terbaik. Manfaat gaharu antara lain getahnya untuk bahan pembuatan hio dan dupa serta industri kosmetik, sedangkan pohonnya berguna untuk konservasi lingkungan karena secara baik mampu menyerap air. Gaharu merupakan kebutuhan pokok bagi masyarakat di negara-negara Timur Tengah yang digunakan sebagai dupa untuk ritual keagamaan. Masyarakat di Asia Timur juga menggunakannya sebagai hio. Minyak gaharu merupakan bahan baku yang sangat mahal dan terkenal untuk industri kosmetika seperti parfum, sabun, lotions, pembersih muka serta obat-obatan seperti obat hepatitis, liver, antialergi, obat batuk, penenang sakit perut, rhematik, malaria, asma, TBC, kanker, tonikum, dan aroma terapi.


Kapur barus

Pada al-Qur’an surat al-Insan (76) ayat ke 5 menyebutkan: “Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan akan meminum dari gelas, minuman yang dicampur kafur”. ( AlQuran 76:5). Kafur yang dimaksud ayat itu menurut beberapa pendapat adalah kapur barus.  Dari konteks ayat tersebut jelas bahwa kafur merupakan sesuatu yang mewah dan istimewa.

Keberadaan kafur ini telah dicatat oleh Ptolemy, geograf Yunani yang dinyatakan berasal dari Barus (Barousai). Barus ini merupakan sebuah daerah di sekitar utara Sumatera. Sebuah peta kuno yang dibuat Claudius Ptolemos, dari Yunani pada abad ke-2 Masehi ini, bahwa di pesisir sumatera telah terdapat sebuah Bandar niaga bernama Baraosai yang menghasilkan wewangian dan kapur barus.

Nama Ilmiah dari Kapur Barus yaitu Cinnamomum camphora. Kapur barus disebut juga dengan kamfer (atau camphor dalam bahasa Inggris). Tanaman ini adalah pohon besar, tinggi hingga 65 m atau bahkan 75 m, ditemukan di hutan campuran pada tanah yang dalam humat berpasir kuning. Tanaman ini adalah kayu keras berat. Kamfer tersebut diambil dari bagian tengah pohon kapur. Kamfer dahulu kala dibuat dari potongan kayu batang pohon Cinnamomum camphora. Dimana potongan-potongan kecil kayu ini direbus dan melalui proses penyulingan dan penghabluran diperoleh kristal kamfer sebagai bahan baku untuk diproses di pabrik.

Kapur barus inilah salah satu hal yang menarik para pedagang Cina, India, Parsi, Arab, Turki, dan Eropa datang ke Barus. Sedemikian tersohornya kota Barus sebagai penghasil bahan baku kamfer sejak abad ke 9, hingga semua saudagar dari seluruh penjuru dunia berlayar ke Barus untuk membeli kayu penghasil kamfer ini.

Sejak abad ke-4 sampai abad ke-10 Masehi atau sesudahnya, kapur barus atau kamper merupakan barang komoditas di sebagian besar dunia, dari Cina sampai kawasan Laut Tengah (meliputi Indocina, Asia Tenggara, India, Persia, Timur Tengah, bahkan Afrika). Sumber tertua yang menyebutkan kamper adalah catatan seorang pedagang Cina awal abad ke-4 Masehi, yang menelusuri Jalur Sutra. Di Barat, catatan tertua tentang kamper berasal dari tulisan seorang dokter Yunani yang tinggal di Mesopotamia, bernama Actius (502-578). Sementara itu, kronik Dinasti Liang (502-557) di Cina mengaitkan kamper dengan sebuah daerah yang nanti dikenal dengan Barus.

Mesir diketahui telah mengimpor sejumlah komoditi dari selatan, di antaranya kapur Barus dari kota Barus di pesisir timur Sumatera. Kapur Barus yang diolah dari kayu kamfer telah dibawa ke Mesir untuk dipergunakan bagi pembalseman mayat pada zaman kekuasaan Firaun sejak Ramses II atau sekitar 5. 000 tahun sebelum masehi.

Pada zaman dulu, Kapur Barus sudah menjadi barang yang sangat penting sehingga Banyak orang Eropa dan Timur Tengah berdatangan ke Barus. Menurut Marco Polo, harga kapur barus semahal emas dengan berat yang sama.

Tapi sayang dewasa ini kapur barus diproduksi tidak lagi memakai bahan baku kayu pohon kamfer, tetapi dibuat secara sintesis dari minyak terpentin. Kapur atau kamfer dari Barus berbeda dengan kapur barus yang digunakan masyarakat modern untuk membasmi serangga atau rayap.  Kamfer dari Barus penting untuk farmasi atau pengobatan kuno, pembalseman mummi (mummy),  obat dan wewangian.


Cendana


Tome Pires dalam bukunya Suma Oriental (1514) menulis bahwa para pedagang sering mengatakan "Tuhan menciptakan Maluku untuk cengkeh, Banda untuk pala, dan Timor untuk kayu cendana".

Cendana (Santalum album L.) adalah tanaman khas yang tumbuh di Pulau Timor dan Pulau Sumba Nusa Tenggara Timur. Konon karena pohon cendana inilah pulau Sumba kemudian mendapatkan julukan sebagai Sandalwood Island.

Sejarah membuktikan, bahwa cendana telah diperjualbelikan sejak abad ke-3. Waktu itu banyak kapal dagang yang datang ke Pulau Timor dan Pulau Sumba, kemudian diangkut ke pelabuhan transito di wilayah Indonesia bagian barat (Sriwijaya) untuk selanjutnya diteruskan ke India. Hal tersebut menarik perhatian bangsa-bangsa lain, hingga pada abad ke-15 datanglah bangsa Eropa (Portugis, Belanda) ke Pulau Timor untuk melakukan transaksi cendana. Sejak itu perdagangan cendana semakin marak, di Pulau Timor terdapat 12 pelabuhan yang ramai dikunjungi kapal dagang mancanegara. Banyak pedagang dari wilayah Indonesia bagian barat dan Cina berlayar ke berbagai wilayah penghasil cendana di Nusa Tenggara Timur terutama Pulau Sumba dan Pulau Timor.

Oemerling dalam bukunya The Timor Problem menuliskan bahwa penyelidikan sumber-sumber Cina yang kuat menyatakan bahwa Timor sudah menghasilkan kayu cendana untuk pasaran Asia ratusan tahun sebelum Vasco da Gama berlayar mengelilingi Tanjung Pengharapan Baik. Inspektur Cina Chau Yu Kua pada tahun 1225 telah menulis bahwa Timor kaya dengan kayu cendana dan telah melakukan hubungan perdagangan dengan Jawa.

Schrieke (1925) menegaskan bahwa paling lambat tahun 1400, atau mungkin sudah sejak sebelumnya, Timor telah dikunjungi oleh para pedagang dari pelabuhan-pelabuhan Jawa secara teratur. Para pedagang Islam dari India sejak tahun 1400 telah berdiam di kota pelabuhan jawa bagian Timur sehingga mereka juga telah mengadakan kontak perdagangan cendana dengan Timor. Minyak cendana sudah termasyur di Asia Timur sejak dahulu kala karena kasiatnya.

Sejak jaman kuno cendana telah dipergunakan oleh orang Hindu dan Cina sebagai dupa dalam rangka upacara keagamaan dan kematian. Di samping itu orang Hindu menggunakan tepung cendana sebagai bedak pelabur kulit untuk membedakan kasta Brahmana dan kasta lainnya. Kayu cendana juga dimanfaatkan untuk patung, bahan kerajinan dan perkakas rumah tangga. Dalam pembakaran mayat orang Hindu kadang-kadang digunakan pula kayu cendana. Minyak cendana yang wangi baunya digunakan sebagai bahan pengobatan dan campuran minyak wangi (parfum).

Greshoof (1894-1909) menuliskan bahwa para tabib Arab sudah mengenal minyak cendana sejak tahun 1000 Masehi. Cendana dikenal sebagai barang mewah di Eropa khususnya perusaha farmasinya. India sejak perang dunia pertama memasarkan minyak cendana ke Eropa dan lebih mengambil keuntungan besar dari Timor karena Timor saja yang menghasilkan kayu cendana - (Risseuw 1950). Selain pelabuhan Fatumean / Batumean (Tun Am - Amanatun), juga ada pelabuhan dagang yang ramai dikunjungi seperti Kamanasa, Mena, Sorbian, Samoro, Ade (Timor, Ende et Solor par Godinho en 1611).


Sebenarnya masih banyak tanaman Indonesia yang bernilai tinggi selain dari yang disebutkan di atas. Jika semua itu kita kembangkan bukan tidak mungkin hasil alam Indonesia itu akan dapat membuat rakyat di Indonesia lebih sejahtera.