Wednesday, June 20, 2012

10 Tips Dasar Perjalanan Anda

1. Tujuan.
First in first out. Ya iyalah… tanpa menentukan tujuan wisata anda, bagaimana memulai perencanaan? Ingat kata nenek moyang kita “Naik tanpa perencanaan turun tanpa penghormatan”. Without destination, there’s no place you can go.

2. Waktu.

Waktu sangat menentukan jarak tempuh anda. Duh, bayangin adja jika anda ingin ke Amerika tapi waktu anda Cuma 3 hari, nggak cukup khan? Maknya kalu anda gak ada waktu jangan lupa membelinya di toserba-toserba terdekat. Ingat khan “bahwa uang segalanya” jadi dengan ber-uang anda dapat membeli segalanya.Tentukan juga waktu anda dengan kondisi geografis setempat.

3. Biaya.
Like wise man says, everything has its price. Hal ini sudah dibilang mutlak. Walau di ilmu sosial gak ada yang mutlak. Tapi ini berlaku di ilmu hitam. Keterbatasan biaya akan menghambat perjalanan dan tingkat kenyamanan anda. Jadi hitung-hitung dulu dan sesuakain dengan budget code sebelum melakukan perjalanan.

4. Akomodasi.
Manusia membutuhkan tempat berlindung. Jadi sah-sah adja untuk mencari tempat tinggal dan melakukan pemesanan sebelum melakukan perjalanan. Bisa repot kalu anda tiba di tempat tujuan tapi hotel nya sudah fully booked. Mau gak mau anda harus bepetualang mencari hotel yang masih available.

5. Tranportasi.
Coba cek, apakah negara tujuan wisata anda mempunyai transportasi umum yang layak konsumsi dan aman ? Kalu tidak, siap-siaplah keluarin extra budget untuk taksi. Yang namanya taksi itu dimana-mana mahal.

6. Food.
Good friend great food. Buat para food lovers ini gak menjadi begitu masalah. Karena setiap daerah memiliki khas kuliner yang berbeda-beda.

7. Must visit place.
Setiap destinasi memiliki tempat unik yang bisa di kunjungi., baik itu bagus maupun tidak.Jadi, pastikan anda memilih tempat sesuai dengan daya tarik anda sendiri. Tambahan, jangan lupa untuk memasukan di agenda anda prioritas tempat memilih yang anda kunjungi day by day basis.

8. Iklim/Cuaca.
Iklim atau cuaca apaun namanya. Sangat mempengaruhi aktifitas, pakaian, kegiatan ataupun hobby. Jadi pastikan anda iklim destinasi sebelum memutuskan untuk bepergian. Travelling tanpa mengetahui keadaan yang sedang terjadi di daerah yang di tuju, khan aneh ! Bisa-biswa anda pengenya ke pantai, eh, tahu-tahunya malah winter pula disana, nggak lucu kan… !!

9. Camera & Souvenir.
Kenangan perjalanan akan menjadi moment buat setiap orang, baik itu bahagia, sedih, kecewa, lucu yang pastinya berkesan buat anda. Jadi, souvenir dan foto=foto perjalanan atau bahkan video dokumenter akan menjadi panduan anda untuk mengenangnya dimasa yang akan datang.

10. Travel Warning.
Informasi bencana alam dan peperangan patut menjadi pertimbangan sebelum berangkat karena keselamatan adalah hal yang paling penting atas segala-galanya. Dengan adanya berita destinasi yang up to date, hal-hal yang tidak di inginkan dapat di cegah atau di hindari. Alternatif lain, anda dapat cek di kedutaan setempat atau kantor imigrasi. Namun jika anda bepergian dengan mengambil paket komplit dari agen perjalanan, tenang saja karena semua itu sudah di atur dan di pertimbangan oleh agen.Ngapaen mesti repot kalu yang gampang ada.

Monday, June 4, 2012

Buah lokal vs buah impor

Buah lokal Indonesia sebenarnya memiliki rasa dan bentuk yang tidak kalah dengan buah import. Indonesia merupakan salah satu negara kaya akan hasil alam termasuk buah. Sayangnya orang Indonesia lebih banyak memilih buah import. Para petani kadang juga lebih memilih membudidayakan buah yang asalnya tidak asli dari Indonesia padahal buah asli Indonesia tidak kalah dengan buah asal luar negeri. Untuk lebih jelasnya, berikut buah-buah asli Indonesia yang dibandingkan dengan buah dari luar Indonesia.

Buah apel vs Jambu air


Jambu Air (Syzygium javanicum dan Syzygium Samarangense) merupakan buah tropis dari tanaman asli Indonesia. Tanaman ini kemudian menyebar. Pada awal abad 20, tanaman ini telah dibudidayakan di  Jamaika, Suriname, Kepulauan Curacao, Aruba, dan Bonaire. Jambu air kini juga dikembangkan di negara-negara seperti India, Thailand, Cina, negara-negara Amerika Tengah, dan Selatan. Jambu air kadang disebut Water Apple mungkin karena buahnya mirip apel tetapi banyak airnya. Jambu air juga dikenal dengan nama Java Apple.

Rasa jambu air sangat manis dan berair sehingga enak kalau memakannya. Buah ini renyah dan nikmat. Jambu air kaya akan antioksidan seperti vitamin C dan vitamin A. Selain itu, jambu air juga mengandung mineral yang tidak kalah bagus dari apel. Jambu air merupakan sumber mineral besi, kalsium, magnesium, fosfor, kalium, seng, tembaga dan mangan.


Buah Anggur vs Jamblang


Buah Jamblang (Syzygium cumini) sering juga di sebut anggur jawa karena bentuk dan warnanya seperti anggur. Tanaman ini disebut juga dengan nama java plum (Inggris). Sebagian orang menyebut buah ini dengan nama Duwet. Jamblang bisa ditemukan di Bangladesh, India, Nepal, Pakistan, Sri Lanka, Filipina dan tentunya Indonesia. Buah Jamblang mirip dengan buah anggur hitam, namun lebih lonjong. Ukurannya relatif sama dengan anggur.

Buah jamblang rasanya sepet-sepet dan manis. Ada asamnya juga. Uniknya kalau makan buah ini warna lidah akan berubah menjadi ungu kehitaman. Buah Jamblang ini banyak manfaatnya disamping enak. Buah ini kalau dimakan bisa memperbaiki gangguan pencernaan, merangsang keluarnya air liur, dan menurunkan kadar glukosa darah. Buah ini juga kaya vitamin A dan C.


Buah Leci vs Rambutan 


Buah rambutan (Nephelium lappaceum L.) termasuk keluarga Sapindaceae seperti Leci (Nephelium litchi atau litchi Sineasis). Kalau buah Leci merupakan buah subtropis asal Cina Selatan, buah rambutan merupakan buah asli Indonesia. Pada tahun 1906, Indonesia pernah mengekspor biji rambutan ke Amerika Serikat namun ternyata buah ini sulit tumbuh di Amerika Serikat. Rambutan dalam bahasa Inggris juga disebut Rambutan artinya memang buah ini asli Indonesia. Buah rambutan adalah buah yang berbulu seperti rambut karena itu disebut rambutan. Buah ini juga dibudidayakan di Thailand,Malaysia dan Filipina. Di Indonesia buah ini sering disepelekan karena banyak tumbuh padahal bagi negara-negara Eropa atau Amerika ini buah ini sangat disukai dan mahal harganya.

Rasa buah rambutan bervariasi, dari masam sampai manis. Buah rambutan selain enak buahnya, juga banyak manfaatnya. Buah rambutan mengandung karbohidrat, protein, lemak, fosfor, besi, kalsium dan vitamin C. Bahkan kadar vitamin C buah rambutan lebih tinggi dari jeruk manis.

Jeruk vs Pomelo


Pomelo (Citrus grandis) dipercaya oleh banyak ahli sebagai tanaman asli Indonesia. Buah ini kini telah menyebar ke Indocina, Cina bagian selatan, Jepang bagian paling selatan, India, wilayah Mediteran, dan sampai ke Amerika tropik. Pomelo merupakan jenis jeruk yang menghasilkan buah berukuran besar. Buah ini bentuknya seperti jeruk, tetapi dalam ukuran yang lebih besar dan berwarna putih atau merah muda. Karena dulu penghasil jeruk ini banyak terdapat di Bali maka disebut juga jeruk Bali. Namun salah satu lokasi budidaya jeruk bali yang terkenal bukan Bali, melainkan Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Di Pati, jeruk Bali disebut dengan jeruk bali madu karena rasanya yang manis.

Daging buah jeruk Bali atau pomelo ada yang berwarna putih, namun ada juga yang berwarna kemerahan. Biasanya, jeruk Bali yang berwarna kemerahan memiliki rasa lebih manis dibandingkan dengan yang memiliki daging berwarna putih. Buah Pomelo bermanfaat bagi kesehatan jantung dan lambung dan juga baik untuk kesehatan gusi karena kadar vitamin C-nya tinggi. Selain itu buah ini mengandung provitamin A, vitamin B, vitamin B1, B2 dan asam folat.

Kurma vs Salak


Salak (Salacca zalacca) merupakan tanaman buah asli Indonesia. Jika kurma adalah buah yang tumbuh dari pohon palem di timur tengah, Salak merupakan buah yang berasal dari tumbuhan jenis palem berduri asli Indonesia. Salak disebut juga dengan nama Snake Fruit karena kulitnya yang bersisik. Buah Salak merupakan salah satu buah tropis yang banyak diminati oleh orang Jepang, Amerika, dan Eropa.

Buah salak memiliki rasa manis kesat, dan segar. Di dalam buah salak terdapat vitamin C, tanin dan serat. Buah salak juga memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi dan dapat dikonsumsi sebagai buah segar maupun diolah sebagai manisan. Di Madura Salak diolah menjadi makanan yang rasanya mirip kurma sehingga disebut dengan Kurma Salak. Untuk membuat kurma salak, Salak dikupas kemudian direbus dengan air gula sehingga rasa dan bentuknya hampir menyerupai kurma.

Buah-buah Indonesia memiliki cita rasa beragam tidak kalah dengan buah subtropis. Selain buah yang disebutkan tadi masih banyak buah asli Indonesia yang tidak kalah nikmat seperti belimbing, mangga, matoa, durian, nangka dsb. Buah-buah subtropis dan buah tropis tapi tidak asli Indonesia memang diantaranya sudah bisa dibudidayakan di Indonesia seperti apel, Jeruk, semangka, melon, anggur, buah naga dsb. Tapi alangkah baiknya jenis buah asli Indonesia juga turut dikembangkan agar tidak punah. Sudah saatnya orang Indonesia lebih memilih buah lokal. Mengkonsumsi buah lokal bisa mendatangkan manfaat bagi perekonomian yang bisa membantu petani-petani buah Indonesia. Selain itu, dengan konsumsi buah lokal kita juga turut serta membantu melestarikan sumber daya alam yang ada di Indonesia.

Sunday, May 13, 2012

Berpetualang ke masa lalu tidak perlu mesin waktu, kita bisa melihat masa lalu bumi melalui alam Indonesia

Tidak ada yang tahu berapa sebenarnya usia bumi ini. Manusia hanya bisa memperkirakan saja. Para ahli geologi membagi masa perkembangan bumi menjadi beberapa zaman. Sejarah bumi berdasarkan "ada" dan belum "adanya" kehidupan yang nyata dibedakan menjadi dua kurun yaitu :
1. Kriptozoikum (kurun belum dijumpai kehidupan nyata)
2. Fanerozoikum (kurun sudah ada kehidupan nyata)

Kurun kriptozoikum dibedakan menjadi dua masa yaitu:
1. Arkeon / arkeozoikum (4,5 – 2,5 milyar tahun lalu)
Masa Arkeozoikum (Arkean) merupakan masa awal pembentukan batuan kerak bumi yang kemudian berkembang menjadi protokontinen. Pada masa itu bumi dalam proses pembentukan, permukaan bumi masih sangat panas sehingga belum terdapat makluk hidup yang tinggal di bumi.

2. Proterozoikum (2,5 milyar – 290 juta tahun lalu)
Proterozoikum artinya masa kehidupan awal. Masa Proterozoikum merupakan awal terbentuknya hidrosfer dan atmosfer. Pada masa ini kehidupan mulai berkembang dari organisme bersel tunggal menjadi bersel banyak (enkaryotes dan prokaryotes).  Enkaryotes ini akan menjadi tumbuhan dan prokaryotes nantinya akan menjadi binatang.

Masa Arkeozoikum dan Proterozoikum bersama-sama dikenal sebagai masa pra-kambrium.

Kurun fanerozoikum dibagi menjadi tiga masa yaitu :
1. Palaezoikum 
Masa palaeozoikum berlangsung sejak 540 juta – 245 juta tahun yang lalu. Masa ini merupakan masa perkembangan hewan invertebrata (tidak bertulang belakang) dan vertebrata, khususnya ikan dan reptilia. Ganggang laut dan tumbuhan berspora juga berkembang pesat pada masa ini. Masa Paleozoikum dibagi menjadi 2 bagian besar yaitu Paleozoikum Bawah yang meliputi Zaman Kambrium, Zaman Ordovisium, Zaman Silur; dan Paleozoikum Atas yang meliputi Zaman Devon, Zaman Karbon, dan Zaman Perm.

2. Mesozoikum
Disebut juga sebagai zaman sekunder, berlangsung kira-kira 140 juta tahun yang lalu. Zaman ini ditandai dengan munculnya hewan-hewan reptil besar (dinosaurus) oleh karena itu jaman ini disebut juga zaman reptil. Masa Mesozoikum dibagi menjadi tiga zaman yaitu: Trias, Jura, dan Kapur.
 
3. Kenozoikum 
Kenozoikum disebut juga era Neozoikum yang diartikan masa baru dalam sejarah geologi bumi. Masa ini berlangsung sejak 65 juta tahun silam hingga sekarang. Masa ini terdiri dari zaman tersier dan kuarter. Pada jaman kuarter pembabakan waktunya masih dibagi lagi menjadi 2 yaitu zaman Pleistosen/dilivium (zaman es/glasial) dan zaman Holosen/alluvium. Kala Plistosen mulai sekitar 1,8 juta tahun yang lalu dan berakhir pada 10.000 tahun yang lalu. Kemudian diikuti oleh Kala Holosen yang berlangsung sampai sekarang.

Dari zaman-zaman tersebut, manusia hanya bisa membayangkan bagaimana keadaan bumi di masa lalu itu. Bisakah manusia kembali ke masa lalu untuk mempelajari keadaan bumi di masa purba? Sebenarnya alam Indonesia seperti kapsul waktu. Jika ingin berpetualang ke masa lalu kita tidak perlu mesin waktu. Lewat alam Indonesia kita bisa menjelajahi waktu dari zaman permulaan bumi..

Indonesia memiliki tempat-tempat dimana keadaan alamnya seperti berada di masa lain. Suatu hal yang ajaib karena seolah-olah alam di Indonesia ada yang luput dari evolusi alam. Berikut tempat-tempat tersebut:

Gunung Anak Krakatau


Gunung Anak Krakatau terletak di selat sunda antara pulau Jawa dan Sumatera. Gunung Anak Krakatau merupakan gunung yang terbentuk akibat letusan Gunung Krakatau yang pernah menggelapkan bumi selama 2 hari. Krakatau pernah meletus tanggal 27 Agustus 1883 dengan daya ledakan yang maha dahsyat. Pasca letusan 1883,  Krakatau lenyap.

Setelah sekian lama terjadi letusan, pada tahun 1927,di bekas letusan Krakatau terjadi fenomena baru, yakni munculnya anak gunung Krakatau dari permukaan laut.
Pada tanggal 29 Desember 1927, letusan di bawah laut di kedalaman 188 meter menandai kebangkitan kembali Krakatau setelah 44 tahun. Kemudian Anak Krakatau terus tumbuh menjadi gunung api yang sangat aktif dengan pertumbuhan rata-rata 5 inci per minggu. Pada Gunung Anak Krakatau ini kita bisa menyaksikan munculnya pulau baru.

Melihat kembali terbentuknya daratan di gunung anak Krakatau seolah-olah kita berada di Zaman Arkeozoikum. Zaman Arkeozoikum merupakan zaman tertua, berlangsung kira-kira 2.500 juta tahun yang lalu. Pada masa itu bumi dalam proses pembentukan, permukaan bumi masih sangat panas sehingga belum terdapat makluk hidup yang tinggal di bumi. Pada masa itu ada aktivitas inti bumi yang menimbulkan banyak terbentuk gunung berapi yang memancarkan material dari inti bumi membentuk tanah daratan, sehingga dasar tanah dan tanah daratan yang terbentuk selama proses aktivitas planet bumi (siklus tanah bumi) akan menimbulkan lempeng benua. Gunung berapi terbentuk dari batuan cair panas yang disebut magma yang berasal dari perut bumi.


Laut Sangihe, Sulawesi Utara 



Pada laut Sangihe Sulawesi Utara terdapat sebuah gunung api aktif setinggi 3.200 meter di kedalaman 1.900 meter di bawah Laut. Gunung api tersebut membentuk sebuah kawasan komunitas baru di areal geothermal. Di ketinggian 2.000 meter dari gunung berapi tersebut menempel cerobong-cerobong asap tinggi yang mengeluarkan panas dari gunung berapi. Di dalam suhu air yang sangat tinggi hingga mencapai 200 derajat celsius itu ternyata hidup berbagai biota laut. Uniknya di bawah laut ini juga hidup bakteri-bakteri yang diperkirakan sama dengan bakteri yang hidup 3,5 miliar tahun lalu. Sifat-sifat molekul atau DNA bakteri tersebut sama dengan bakteri yang hidup 3,5 miliar tahun lalu.

Sekitar 3,5 milliar tahun yang lalu, Bakteri-lah barangkali makhkluk hidup yang pertama kali muncul di bumi dan organisme primitif lainnya. Fossil tertua yang berhasil ditemukan adalah bakteri yang berusia 3,5 milliar tahun. Para ilmuwan memberikan gambaran bahwa kehidupan mahluk-mahluk ini terjadi dalam era Proterozoikum antara rentang waktu 3,5 milyar tahun - 6 juta tahun yang lalu. Proterozoikum artinya masa kehidupan awal.

Danau Satonda, Nusa Tenggara Barat



Pada tepi danau Satonda dapat ditemukan sebaran luas terumbu gampingan stromatolit. Danau Satonda yang terletak di sebelah utara seberang Gunung Tambora, Nusa Tenggara Barat menjadi satu-satunya tempat di bumi ini yang sempurna bagi stromatolit untuk berkembang. Perlu diketahui, Stromatolit (batuan berlapis yang dibentuk dari penggabungan sedimen mineral menjadi hamparan mikroba) adalah organisme pertama di bumi yang menghembuskan oksigen. Organisme ini dipercaya merupakan organisme yang mengubah atmosfir bumi sehingga kemudian menjadi nyaman untuk dihuni oleh mahluk hidup bersel banyak (multisel) setelahnya. Stromatolit muncul untuk pertama kalinya pada suatu waktu antara Archean tengah-Archean akhir (sekitar 3000 juta tahun lalu) dan menjelang awal Proterozoikum mereka berkembang dalam lingkungan yang luas. Material stromalit berlimpah pada kurun prekambrium, atau sekitar 3,4 miliar tahun lalu. Struktur stromatolit dalam perkembangannya tidak pernah ditemukan lagi kecuali di Danau Satonda ini.

Kehadiran stromatolit di Satonda menjadi sangat menarik karena menunjukkan danau ini memiliki lingkungan yang menyerupai lautan purba, prakambrium. Secara kimiawi jelas air danau ini sangat mirip dengan air/lautan pada masa prakambrium. Di danau ini pada kedalam sekitar 10-15 meter, akan ditemukan sebuah batas pertemuan oksigen dan H2S atau biasa disebut "chemocline". Pada tempat inilah dapur utama pembentuk terumbu yang kemudian berlapis-lapis menjadi stromatolit. Umur stromatolit satonda banyak yang menyebut sekitar 2000 - 4000 tahun. Meski terbilang masih sangat muda, tetapi fakta bahwa keberadaan stromatolit alami di dunia saat ini hanya di danau satonda ini. Menurut dua ilmuwan Eropa, Stephan Kempe dan Josef Kazmierczak,  Satonda merupakan fenomena langka karena airnya yang asin dengan alkalinitas (tingkat kebasaan) sangat tinggi dibandingkan dengan air laut umumnya. Danau Satonda dianggap merupakan miniatur laut pada Kurun PraKambrium.


Perairan Talise, Sulawesi Utara




Keberadaan Ikan raja laut atau Coelacanth yang ditemukan di perairan Talise sebelah Utara menunjukkan bahwa perairan Talise cocok untuk Habitat ikan purba Coelacanth. Coelacanth adalah ikan besar dengan panjang bisa mencapai 2 meter dan berat 100 kilogram. Ikan ini bisa hidup hingga berumur 50 tahun. Sirip-siripnya besar dan tebal sehingga ikan ini diyakini ilmuwan sebagai nenek moyang hewan darat, seperti katak. Coelacanth dikategorikan sebagai ikan prasejarah dan fosil hidup karena diduga sudah ada semenjak era Devonian, sekitar 380 juta tahun yang lalu.  Ikan tersebut sempat diperkirakan sudah punah sejak akhir masa Cretaceous 65 juta tahun lalu tapi ternyata ikan ini masih bisa ditemukan di perairan Talise. Habitatnya adalah karang-karang di laut dalam sekitar 150-200 meter di bawah permukaan laut. Habitat ikan Coelacanth berada di kedalaman lebih dari 180 meter dengan suhu maksimal 18 derajat Celsius. 

Ikan Coelacanth merupakan hewan yang berhasil bertahan hidup dari era paleozoikum tepatnya 400 juta tahun Sebelum Masehi pada zaman devon. Zaman Devon merupakan zaman perkembangan besar-besaran jenis ikan dan tumbuhan darat. Ikan berahang dan ikan hiu semakin aktif sebagai pemangsa di dalam lautan. Serbuan ke daratan masih terus berlanjut selama zaman ini. Hewan Amfibi berkembang dan beranjak menuju daratan. Tumbuhan darat semakin umum dan muncul serangga untuk pertama kalinya.


Pulau Lihukan, Sulawesi Selatan


Di pulau Lihukan yang terletak diantara perairan laut Flores dan laut Sulawesi ini tumbuh tanaman purba Sikas Naga (Cycas Affinity Rumphii). Tanaman Sikas Naga tumbuh subur dan populasinya bisa dibilang stabil di pulau ini. Diperkirakan tanaman purba ini sudah ada sejak 230 juta tahun yang lalu, jauh sebelum dinosaurus hidup di muka bumi. Tumbuhan ini hidup di atas batu-batu karang yang tajam. Sikas naga tumbuh di atas permukaan karang. Seluruh kawasan di Pulau Lihukan tak ada yang bertanah. Sebatas mata memandang yang ada hanya bebatuan berongga dan berujung runcing. Pada rongga-rongga batu itu sikas tumbuh. Jadilah nampak seperti pot-pot alami bagi tumbuhan sikas. Di batu inilah tanaman ini hidup, nutrisi di perolehnya dari sisa-sisa sampah laut yang tersapu ombak serta mineral yang terkandung di dalam batu yang lepas saat di terpa ombak laut ataupun hujan.

Tanaman Sikas merupakan tanaman purba yang sudah ada sejak belasan juta tahun silam, pada zaman Karbon. Pada zaman Karbon (360 – 290 juta tahun lalu), pohon pertama muncul, jamur Klab, tumbuhan ferm dan paku ekor kuda tumbuh di rawa-rawa pembentuk batubara. Reptilia muncul pertama kalinya dan dapat meletakkan telurnya di luar air. Serangga raksasa muncul dan ampibi meningkat jumlahnya.

Pulau Komodo, NTT

 
Pulau Komodo adalah sebuah pulau yang terletak di Nusa Tenggara Timur. Keadaan alam yang kering dan gersang menjadikan pulau ini suatu keunikan tersendiri. Adanya padang savana yang luas, sumber air yang terbatas dan suhu yang cukup panas; ternyata merupakan habitat yang disenangi oleh sejenis binatang purba Komodo (Varanus komodoensis).

Binatang Komodo disebut-sebut merupakan peninggalan zaman Jurassic. Konon, saat itu bumi ini didominasi oleh kelompok reptil seperti dinasourus, alosaurus, stegosaurus dan apotosaurus. Berkunjung ke Pulau Komodo bagai memasuki zaman Jurassic. Pada zaman Jurasic, Amonit dan Belemnit sangat umum. Reptilia meningkat jumlahnya. Dinosaurus menguasai daratan, Ichtiyosaurus berburu di dalam lautan dan Pterosaurus merajai angkasa.

Luweng Jomblang, Yogyakarta 


Luweng Jomblang yang terletak di dusun Jetis, Semanu,Gunung Kidul, Yogyakarta merupakan salah satu gua batu gamping dari ratusan gua yang ada di gugusan kawasan karst Gunung Sewu. Luweng Jomblang atau Gua Jomblang merupakan gua vertikal dengan kedalaman sekitar 60 meter yang luasnya hampir seluas lapangan bola, mempunyai bentang hutan purba bawah tanah. Disebut hutan purba oleh penduduk setempat mungkin karena hutan ini terdapat pada cekungan doline yang tidak pernah terusik sejak terbentuk setelah jaman Pleistosen. Hutan purba tersebut terbentuk akibat proses geologi amblesnya tanah beserta vegetasi yang ada di atasnya ke dasar bumi yang terjadi ribuan tahun lalu. Runtuhan ini membentuk sinkhole atau sumuran. Hutan ini bertahan karena sinar matahari masih mampu masuk. Hutan purba di Luweng Jomblang memiliki vegetasi yang berbeda dengan vegetasi di permukaan. Beberapa tumbuhan yang hidup di hutan ini tidak ditemui lagi di atas permukaan goa. Tumbuhan yang cukup terkenal di tempat ini antara lain Genipa Americana, tumbuhan pakis, Daun Airmata (jenis pakis), Merica-Mericaan, Cabe-Cabean (bahasa latin = Albus), dan tumbuhan lain yang belum diketahui namanya.


Danau Kakaban, Kalimantan Timur



Danau Kakaban terletak di tengah Pulau Kakaban, Kalimantan Timur. Danau Kakaban merupakan danau prasejarah yang diprediksi terbentuk sejak 2 juta tahun lalu saat zaman peralihan holosin. Karena merupakan sistem tertutup, keanekaan hayati di Danau Kakaban seperti di zaman purba, tak terpengaruh oleh zaman. Beragam biota laut yang menghuni Danau Kakaban mengalami evolusi selama terkurung di dalamnya sehingga memiliki sifat dan tampilan fisik yang berbeda dengan spesies sejenis yang berada di laut. Danau ini merupakan danau purba yang menjadi sarang bagi ribuan ubur-ubur tak bersengat.

Itulah tempat-tempat dimana ketika kita melihatnya seperti berada di masa purba. Tempat-tempat tersebut harus dijaga dan dilestarikan. Masa lalu takkan bisa kembali tapi dengan adanya tempat-tempat tersebut kita bisa lebih memahami keadaan di masa lalu tersebut.

Wednesday, March 7, 2012

Pohon yang Unik dan Aneh ada di Indonesia

Negara Indonesia banyak ditumbuhi pohon. Beberapa diantaranya terlihat unik dan aneh. Berikut beberapa pohon unik dan aneh yang ada di Indonesia pilihan indonesiatop.blogspot.com:


Pohon berlubang

Pohon Bunut ini sangat unik karena tengahnya berlubang dan ada jalan yang bisa dilalui kendaraan. Pohon ini dikenal dengan nama Bunut Bolong. Bunut Bolong terletak di Desa Manggisari, Kecamatan Pekutatan, Kabupaten Jembrana, Bali.

Jembatan Akar

Pohon ini sangat unik karena akarnya dirajut menjadi Jembatan Akar. Jembatan akar ini dirajut dari akar pohon yang tumbuh di kedua sisi sungai. Jembatan ini merupakan Jembatan alami yang hidup dan terus tumbuh. Jembatan akar ini ada di Kecamatan Bayang, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat.


Pohon pintu gerbang

Akar-akar dua pohon besar saling terhubung terlihat seperti pintu raksasa. Orang-orang ada yang menyebutnya ‘pintu gerbang’. Beberapa pendaki menjadikan pohon ini favorit mereka yang dikunjungi ketika mendaki gunung Slamet. Pohon ini bisa ditemui di hutan gunung Slamet, Jawa Tengah.

Pohon di atas tebing

Pohon yang tumbuh di puncak tertinggi tebing ini membuat pemandangan yang luar biasa indah. Tebing ini dikenal dengan nama Tabiang Takuruang. Tabiang Takuruang berada di Ngarai Sianok, Sumatera Barat.

Batu berdaun

Pohon ini sangat unik karena tampak seperti batu yang berdaun. Sebenarnya ini adalah batu besar yang di tengahnya ditumbuhi pohon. Anehnya akar utamanya tepat berada di tengah-tengah batu yang luar biasa kerasnya. Pohon ini berada di tepi pantai kawasan objek wisata di Singkep, Provinsi Kepulauan Riau.

Pohon Lanang Wadon

Pohon ini jika dilihat menyerupai dua kelamin yaitu kelamin Lelaki dan Perempuan. Bagian bawah pohon itu berlubang sehingga menyerupai alat kelamin perempuan, sedangkan di tengah lubang tersebut tumbuh batang yang mengarah ke bawah yang terlihat seperti alat kelamin pria. Pohon ini diberi nama pohon Lanang Wadon yang berarti Laki Perempuan. Pohon ini terdapat di hutan Sangeh, Kabupaten Badung, Bali.


Pohon tumbuh di atap rumah tua

Pohon besar sejenis beringin ini tumbuh di atas atap rumah adat toraja (Tongkonan). Pohon di atap Tongkonan ini dibiarkan tumbuh karena menjadikannya terlihat unik. Pohon besar yang tumbuh di atas atap ini, akarnya tidak ada yang sampai ke tanah, bahkan tidak ada yang melewati atap ke bawah. Akarnya merambat di segala sisi atap. Pohon unik ini ada di dusun Pao, Lembang Nanggala, Toraja Utara.

Wednesday, February 29, 2012

Ternyata ada Artis Indonesia yang wajahnya mirip dengan artis luar negeri

Ternyata artis Indonesia ada yang mirip dengan artis luar negeri walau hanya mirip sekilas saja. Dalam tulisan ini, Indonesiatop.blogspot.com kali ini mencoba mengumpulkan beberapa selebriti Indonesia yang mirip selebriti dunia terutama artis hollywood. Berikut artis hollywood yang mirip dengan artis Indonesia:

Joe Jonas dengan Raffi Ahmad



Jake Gylenhall dengan Kevin "Vierra" Aprilio



Haley Joel Osment dengan Irfan Bachdim



Sarah Jessica Parker dengan Kiki Fatmala



Rihanna dengan Farah Quinn



Katie Holmes dengan Zaskia Sungkar



Rosie Huntington dengan Cinta Laura



Drew Barrymore dengan Sissy Priscilla



Hayden Panetierre dengan Gita Gutawa



Mischa Barton dengan Luna Maya








dan ini untuk bonus :)

Wesley Snipes dengan Tukul Arwana


Gimana mirip enggak?..
Tulisan ini cuma untuk hiburan saja jadi tidak perlu dianggap terlalu serius juga ya.. Kalo enggak mirip ya dimirip-miripin aja. (indotop)

Friday, January 20, 2012

Ternyata ada hewan purba yang masih hidup di Indonesia

Biasanya jika kita ingin melihat hewan purba maka kita hanya akan melihatnya dalam bentuk fosil karena hewan purba itu sudah punah jutaan tahun yang lalu. Tapi ternyata diantara hewan purba itu masih bisa ditemukan beberapa hewan purba yang masih hidup di bumi ini termasuk di wilayah Indonesia. Hewan yang dikira sudah punah tetapi ternyata masih ada itu bisa disebut fosil hidup. Fosil hidup adalah sebutan bagi hewan atau tumbuhan yang dianggap sudah punah dan menjadi fosil, tetapi pada kenyataannya masih hidup. Sebutan ini dapat pula dikenakan bagi hewan/tumbuhan yang diketahui telah ada jutaan tahun lalu dengan bentuk yang tidak mengalami banyak perubahan dengan peninggalan fosilnya.

Beberapa fosil hidup hewan purba yang bisa ditemukan di Indonesia diantaranya adalah:

Komodo
Komodo merupakan spesies reptil purba endemik yang hidup semenjak zaman purba. Evolusi komodo dimulai dengan genus Varanus yang mulai berkembang di Asia antara 40-25 juta tahun yang lalu. Komodo adalah kerabat dekat dari dinosaurus. Hal ini dilihat dari ditemukannya fosil-fosil dari jenis dinosaurus tertentu yang menunjukkan kemiripan struktur tubuh dengan komodo. Dinosaurus sudah lama punah tetapi Komodo sampai sekarang masih ada. Komodo disebut sebagai Dinosaurus terakhir di dunia. Hewan satu masa dengan dinosaurus ini dikenal sebagai kadal karnivora namun mereka juga hewan kanibal karena kadang mereka memangsa anak-anak mereka. Komodo (Varanus komodoensis) adalah jenis kadal terbesar. Tercatat Komodo terbesar yang pernah ada memiliki panjang 3,13 meter dan berat 166 kilogram. Komodo dapat ditemukan di Pulau Komodo dan pulau-pulau kecil di sekitarnya di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Habitat asli Komodo hanya bisa ditemukan di kepulauan Indonesia ini dan tidak ada di belahan dunia lain.


Penyu Belimbing

Penyu belimbing atau Dermochelys Coriacea disebut telah mendiami Bumi semenjak 100 juta tahun silam semasa dinosaurus merajai planet bumi. Penyu belimbing adalah jenis penyu terbesar. Berat penyu belimbing bisa mencapai 900 kg, dengan panjang badan sekitar satu setengah hingga dua meter. Tidak seperti penyu lainnya, penyu belimbing tidak memiliki karapas keras. Karapasnya seperti sebuah mosaik dari tulang-tulang kecil yang keras, kulitnya elastis dengan punggung membujur. Penyu belimbing dapat ditemukan dari perairan tropis hingga ke lautan kawasan sub kutub dan biasa bertelur di pantai-pantai di kawasan tropis. Penyu belimbing hanya makan ubur-ubur, dan hanya ada sedikit tempat di dunia yang dipilihnya untuk bertelur. Salah satu tempat bertelurnya ada di Pantai Jamursba Medi dan Warmon terletak di Utara Kepala Burung Provinsi Papua Barat, Distrik Abun, Kabupaten Tambrauw. Penyu belimbing mempunyai kebiasaan berkeliling dunia menjelajahi berbagai wilayah di belahan bumi ini.


Ikan Coelacanth

Ikan Coelacanth diduga sudah ada sejak era Devonian sekitar 380 juta tahun silam, hingga kini bentuknya tidak berubah. Coelacanth adalah ikan purba yang berasal dari sebuah cabang evolusi tertua yang masih hidup dari ikan berahang. Sebelumnya, ikan tersebut sempat diperkirakan sudah punah sejak akhir masa Cretaceous 65 juta tahun lalu. Tapi kemudian ternyata ikan ini ditemukan masih hidup. Ikan ini hanya hidup di perairan Afrika Selatan bagian barat dan perairan Indonesia timur masing-masing disebut Latimeria chalumnae dan Latimeria menadoensis. Di Indonesia ikan purba Coelacanth dapat ditemukan di perairan Talise, Minahasa Utara dan perairan Malalayang, Teluk Manado, Sulawesi Utara. Habitat ikan Coelacanth berada pada kedalamanan lebih dari 180 meter dengan suhu maksimal 18 derajat Celsius. Di Indonesia, khususnya di sekitar perairan Manado dan Minahasa Utara, spesies ini oleh masyarakat lokal dinamai ikan raja laut.


Ikan Arwana
Ikan Arwana merupakan salah satu ikan purba yang belum punah. Studi genetik dan temuan fosil menunjukkan, ikan ini setidaknya telah hidup di bumi sejak 220 juta tahun yang lalu. Arwana termasuk ikan karnivor yang mendiami habitat sungai dan danau berair tenang. Ikan ini dapat ditemukan di Amazon, dan di beberapa bagian Afrika, Asia dan Australia. Ikan arwana (Scleropagus sp.) bisa ditemukan di perairan tawar Indonesia. Salah satu jenis Arwana adalah arwana super red yang merupakan ikan asli hulu Sungai Kapuas dan Danau Sentarum di Kalimantan Barat. Perairan ini merupakan wilayah hutan gambut yang menciptakan lingkungan primitif bagi ikan purba tersebut.

Buaya Muara

Buaya merupakan salah satu hewan purba yang tersisa di bumi ini. Buaya muara atau buaya bekatak (Crocodylus porosus) adalah salah satu spesies buaya terbesar di dunia, jauh lebih besar dari Buaya Nil (Crocodylus niloticus) dan Alligator Amerika (Alligator mississipiensis). Panjang tubuh termasuk ekor bisa mencapai 12 meter seperti yang pernah ditemukan di Sangatta, Kalimantan Timur. Buaya masih mempunyai kerabat dekat dengan hewan reptil purba, CrocodileSaurus yaitu nenek moyang buaya yang mempunyai panjang hampir 30 meter. Namun karena pengaruh alam, tubuh CrocodileSaurus menyusut hingga menjadi buaya muara. Buaya muara dapat ditemukan mulai dari Teluk Benggala (India, Sri Langka, dan Bangladesh) hingga Kepulauan Fiji. Indonesia menjadi habitat terfavorit bagi buaya muara selain Australia.


Belangkas

Hewan mirip kepiting ini adalah hewan jenis artopoda yang hidup di perairan dangkal dan kawasan mangrove. Kadang disebut juga dengan nama kepiting ladam, mimi, atau mintuna. Mimi adalah nama dalam bahasa Jawa untuk yang berkelamin jantan dan Mintuna adalah untuk yang berkelamin betina. Hewan ini merupakan salah satu hewan purba yang tidak mengalami perubahan bentuk berarti sejak masa Devon (400-250 juta tahun yang lalu) dibandingkan dengan bentuknya yang sekarang, meskipun jenisnya tidak sama. Bentuk hewan ini berbentuk seperti ladam kuda berekor. Meski bentuknya menyeramkan, daging dan telur belangkas bisa dijadikan makanan. Namun perlu berhati-hati karena ada bagian tubuhnya yang mengandung racun. Belangkas bisa ditemukan di perairan laut Asia Tenggara dan Amerika Utara. Di Indonesia, jenis belangkas yang ditemukan adalah Tachypleus gigas, Tachypleus tridentatus dan Carcinoscorpius rotundicauda. Jenis T. gigas banyak dijumpai di perairan estuaria hampir merata diseluruh perairan Indonesia.


Trenggiling

Trenggiling atau Pangolin termasuk salah satu hewan purba, beberapa fosil trenggiling sudah ditemukan pada masa Oligosen dan Miosen. Hewan ini memakan serangga dan terutama semut dan rayap. Rambutnya termodifikasi menjadi semacam sisik besar yang tersusun membentuk perisai berlapis sebagai alat perlindungan diri. Jika diganggu, trenggiling akan menggulungkan badannya seperti bola. Trenggiling hidup di hutan hujan tropis dataran rendah. Trenggiling dapat ditemukan di Asia Tenggara. Trenggiling yang ada di Indonesia dikenal dengan nama Trenggiling Jawa (Manis Javanica) dijumpai di daerah pegunungan di Sumatera, Kalimantan dan Jawa serta Bali. Walaupun tampak seperti reptil, hewan ini tergolong mamalia. Sekarang di Indonesia sendiri hewan ini termasuk hewan yang dilindungi. Di Provinsi Jambi populasi trenggiling masih cukup banyak ditemui.

Indonesia sebenarnya sungguh menakjubkan karena di wilayah ini kita masih bisa menemukan beragam hewan purba yang unik. Populasi mereka sudah sangat sedikit dan harus dilindungi kelestariannya. Jangan sampai hewan-hewan purba ini punah seperti hewan-hewan purba lainnya yang telah punah jutaan tahun yang lalu.

Sunday, January 8, 2012

Kalender tradisional Indonesia

Beberapa waktu lalu, kita merayakan tahun baru masehi yang berdasarkan penanggalan waktu yang dibuat oleh bangsa Romawi. Sebenarnya kita sendiri juga memiliki kalender tradisional atau sistem penanggalan tradisional yang dipakai beberapa daerah di Indonesia.

Berikut kalender tradisional Indonesia tersebut:

Kalender Jawa

Kalender Jawa merupakan kalender yang dibuat dengan penggabungan unsur-unsur Jawa dengan penanggalan Hijriah. Sistem kalender jawa diprakasai oleh Sultan Agung Mataram Pada tahun 1625 Masehi. Penanggalan ini dulu berlaku untuk seluruh Pulau Jawa dan Madura kecuali Banten. Dalam Kalender Jawa Sultan Agungan, nama-nama bulan mengadopsi dari nama bulan pada kalender Hijriyah sehingga ada kesesuaian dengan kondisi masyarakat Jawa Islam pada waktu itu. Kalender Jawa dalam satu tahun terbagi menjadi 12 bulan. Nama-nama bulan tersebut adalah : Sura, Sapar, Mulud, Bakda Mulud, Jumadilawal, Jumadilakhir, Rejeb, Ruwah, Pasa, Sawal, Dulkangidah, Besar. Dalam sistem kalender Jawa, siklus hari yang dipakai ada dua: siklus mingguan yang terdiri dari 7 hari seperti yang kita kenal sekarang, yaitu Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at, Sabtu dan Minggu. Dan siklus pekan pancawara yang terdiri dari 5 hari pasaran yaitu Pahing, Pon, Wage, Kliwon, dan Legi.


Kalender Sunda

Kalender Sunda merupakan salah satu kalender tertua di Nusantara. Kalender Sunda ini sudah memulai perhitungan sejak tahun 122 Masehi. Penentuan tanggalnya berdasarkan kala edar bulan dan matahari. Seperti kalender pada umumnya, sistem penanggalan Sunda pun terdiri dari 12 bulan. Awal bulan Kalender Sunda, Kartika dan bulan ke-12 disebut Asuji, dengan urutan Kalender Sunda, terdiri dari: Kartika, Margasira, Posya, Maga, Palguna, Setra, Wesaka, Yesta, Asada, Srawana, Badra, dan Asuji. Dalam satu bulan jumlah hari dalam kalender Sunda ada yang berjumlah 29 hari dan 30 hari. Pada kalender sunda ada pembagian bulan menjadi suklapaksa dan kresnapaksa sehingga tidak ada tanggal 16. Sementara dalam seminggu ada 7 hari, yaitu Radite (Minggu), Soma (Senin), Anggara (Selasa), Buda (Rabu), Respati (Kamis), Sukra (Jumat), dan Tumpek (Sabtu). Dalam sewindu ada tiga tahun kabisat. Setiap 120 tahun, satu hari dihilangkan.



Kalender Bali

Kalender Bali merupakan kalender Saka yang sudah dimodifikasi dan diberi tambahan elemen-elemen lokal Bali. Kalender Bali digunakan oleh orang Hindu Bali di pulau Bali dan Lombok. Satu tahun terdiri dari dua belas bulan dimana pergantian tahun adalah pada tahun baru Saka yaitu tanggal satu Waisakha atau penanggal ping pisan sasih kadasa. Nama-nama bulan pada kalender Bali, yaitu: Kadasa, Jiyestha, Sadha, Kasa, Karo, Ketiga, Kapat, Kalima, Kanem, Kapitu, Kawolu, dan Kasanga. Satu minggu terdiri dari tujuh hari dimana pergantian minggu dimulai pada Redite (Minggu) dengan nama-nama hari : Redite, Coma, Anggara, Buda, Wraspati, Sukra, Saniscara.



Kalender Bugis

Pada masa sebelum Tahun 1520 masyarakat Bugis, Sulawesi Selatan memiliki penanggalan dan nama-nama bulan sendiri. Istilah Nama Bulan dalam kalender Bugis, yaitu: Naagai, Palagunai, Bisaakai, Jettoi, Sarawanai, Pe'dawaranai, Sujiwi, Pacciekai, Pociyai, Mangasierai, Mangase'tiwi dan Mangalompai. Nama-nama hari dalam satu Minggu : aha', seneng, selasa, raba'/arabang, kammisi, juma' dan sattu. Orang Bugis juga memiliki sistem kalender yang khas yang disebut kotika Bilangeng duappulo, yang mengacu pada siklus dua puluh hari. Kotika atau kalender tradisional ini sering dipakai oleh para sepuh suku bugis untuk menentukan waktu, hari atau arah yang baik atau buruk. Misalnya, memberi petunjuk tentang waktu yang baik memulai mengerjakan sawah, mendirikan rumah, dan sebagainya. Dalam Kutika Bilangeng Duappulo disebutkan 20 nama hari yaitu sebagai berikut : Pong, Pang, Lumawa, Wajing, Wunga Wunga, Telettuq, Anga, Webbo, Wagé, Ceppa, Tulé, Aiéng, Beruku, Panirong, Maua, Dettia, Soma, Lakkaraq, Jepati, dan Tumpakale.


Kalender Batak Karo

Orang Batak Karo juga mempunyai kalender tradisional yang disebut Porhalaan atau Kalender Batak Karo. Porhalaan didasarkan pengitaran bulan mengelilingi bumi, satu tahun terdiri atas 12 bulan, masing-masing 30 hari sehingga keseluruhan hari berjumlah 360 hari. Nama-nama bulan dinamakan dengan nama binatang atau benda apa yang bersamaan dengan bulan bersangkutan. Adapun nama-nama bulan adalah sebagai berikut: Bulan Sipaka sada merupakan bulan kambing, Bulan Sipaka dua merupakan bulan lampu, Bulan Sipaka telu merupakan bulan gaya (cacing), Bulan Sipaka empat merupakan bulan katak, Bulan Sipaka lima merupakan bulan arimo (harimau), Bulan Sipaka enem merupakan bulan kuliki (elang), Bulan Sipaka pitu merupakan bulan kayu, Bulan Sipaka waluh merupakan bulan tambak (kolam), Bulan Sipaka siwah merupakan bulan gayo (kepiting), Bulan Sipaka sepuluh merupakan bulan belobat baluat atau balobat (sejenis alat musik tiup), Bulan Sipaka sepuluh sada merupakan bulan batu dan Bulan Sipaka sepuluh dua merupakan bulan nurung (ikan). Hari pertama setiap bulan jatuh pada bulan mati dan hari kelima belas adalah bulan purnama. Pada kalender Batak tidak pernah diketahui angka tahun karena memang tidak pernah dihitung. Kalender tersebut tidak pernah dipakai untuk penanggalan melainkan untuk tujuan meramal hari yang baik yang disebut panjujuron ari.

Selain sistem penanggalan tersebut, beberapa daerah juga memiliki sistem penanggalan lainnya. Sayangnya masih belum ada sumber tertulis yang jelas. Sudah saatnya ada yang mulai mempelajari sistem penanggalan warisan nenek moyang kita itu.